Rias Pengantin | Jasa Pernikahan Jawa Indonesia
Rias Pengantin | Jogja / Yogyakarta, Indonesia
Fotografer | Jogja / Yogyakarta, Indonesia
Paket Pernikahan | Jogja / Yogyakarta, Indonesia
Prewed | Jogja / Yogyakarta, Indonesia
 
RIAS dan FOTO PERNIKAHAN | Fotografer Pernikahan Adat Tradisional Indonesia
PERIAS PENGANTIN PROFESSIONAL di JOGJA / YOGYAKARTA, Indonesia
Melayani Rias Pengantin Tradisional Jawa di Jakarta Jogja Yogyakarta Solo Semarang Surabaya Bandung Sumatera Kalimantan Sulawesi Bali Lombok dan Seluruh Indonesia
PAKET PERNIKAHAN KLASIK TRADISIONAL PROSESI ADAT JAWA, INDONESIA
Paes Pengantin - Paket Pernikahan Klasik Tradisional Prosesi Adat Jawa, Indonesia
Perias Tradisional Pakem Adat Jogja-Solo Recommended!
Cari disini
Kunjungi : www.chanandi.com
 
Perias Professional Jogja / Yogyakarta
Perias Professional Jogja / Yogyakarta
Jogja / Yogyakarta & Luar Kota
Jogja / Yogyakarta & Luar Kota
   
Perias Professional Jogja / Yogyakarta
Perias Professional Jogja / Yogyakarta
Jogja / Yogyakarta & Luar Kota
Jogja / Yogyakarta & Luar Kota
   
Perias Professional Jogja / Yogyakarta
Perias Professional Jogja / Yogyakarta
Jogja / Yogyakarta & Luar Kota
Jogja / Yogyakarta & Luar Kota
   
Perias Professional Jogja / Yogyakarta
Perias Professional Jogja / Yogyakarta
Jogja / Yogyakarta & Luar Kota
Jogja / Yogyakarta & Luar Kota
   
Perias Professional Jogja / Yogyakarta
Perias Professional Jogja / Yogyakarta
Jogja / Yogyakarta & Luar Kota
Jogja / Yogyakarta & Luar Kota
   
Perias | Wedding Jogja / Yogyakarta, Indonesia
CARI PERIAS di sini !!
Klik disini
Perias Pengantin Klasik Tradisional, Muslimah & Modern
 
Foto Pernikahan | Wedding Jogja / Yogyakarta, Indonesia
CARI FOTO + VIDEO di sini !!
Fotografer Pengantin Klasik Tradisional, Muslimah & Modern
 
Foto Pernikahan Adat Tradisional Jawa di artikel ini khusus mengulas dan menampilkan Foto Prosesi acara KACAR KUCUR dalam Prosesi Pernikahan Adat Jawa atau Upacara Pernikahan Adat Jawa. Kami selaku Crew Fotografer Pernikahan berbagi Info dengan para Calon Pengantin Jawa, agar menjadi manfaat dan memberikan apresiasi serta ide-ide untuk Pernikahan Adat Pengantin Jawa.
Foto Pernikahan Adat Jawa (Javanese Wedding Ceremony Photos). Foto Sungkeman dlm Wedding Adat Jawa. Artikel Tips untuk para Calon Pengantin dan Fotografer Pernikahan di seluruh Indonesia.
Foto Wedding, Foto-Foto Prosesi Kirab Pengantin Adat Jawa, Foto Pengantin Jawa, Foto Pernikahan Adat Jawa Wedding Yogyakarta (Javanese Wedding Ceremony) by WeddingBook Jogja / Yogyakarta Fotografer Pernikahan Yogyakarta, Indonesian Wedding Photographer.
 
Fotografer Pernikahan | Fotografer Wedding | Foto Pernikahan | Foto Wedding | Wedding Photographer Indonesia | Fotografer Pernikahan Wedding Jogja Yogyakarta for Semarang Solo Jakarta Surabaya Bandung Pekanbaru Jambi Medan Palangkaraya Bali Lombok Kalimantan Sulawesi Sumatera Aceh Indonesia Malaysia Singapura & other locations around the world.
 
CHAN ANDI UWASIS KIKIM PHOTOGRAPHER TEAM is a photography team works founded by Chan Andi & Ecko. Our services range from personal photography product photo to company documentation, creating concept from pre to post production to create a well desired moments. Capturing moments of pre post wedding & engagement photoshoot, wedding day, modeling lifestyle & fashion photography, product & stock photoshoot, landscape & cityscape, event & stage documentation, personal & family portrait, and also company photos for company profile or documentation on special occasions, etc.
 
FOTOGRAFER + VIDEO PERNIKAHAN RECOMMENDED !
# Bekerjasama dengan 33 Perias ProfessionaL ( Jogja Jateng Jakarta Jatim )
WeddingBook Jogja / Yogyakarta | Fotografer Pernikahan Adat Tradisional Indonesia
UWASIS PHOTOGRAPHY Professional Team
Phone. 0877 3855 4378 – Melayani Jakarta Jogja Yogyakarta Semarang Surabaya Bandung
http://www.uwasis.weddingbookjogja.com/
# 2 Team ( Foto + Video ), Total Crew 10 - 12 Org
   
WeddingBook Jogja / Yogyakarta | Fotografer Pernikahan Adat Tradisional Indonesia
CHAN ANDI PHOTOGRAPHY Professional Team
Phone. 0852 0088 4609 – Melayani Jakarta Jogja Yogyakarta Jawa & Sumatera
http://www.weddingbookjogja.com/chanandi/
# 2 Team ( Foto + Video ), Total Crew 10 - 12 Org
   
WeddingBook Jogja / Yogyakarta | Fotografer Pernikahan Adat Tradisional Indonesia

JEME KIKIM PHOTOGRAPHY Professional Team
Phone. 0857 4359 8263 – Melayani Jakarta Jogja Yogyakarta Kalimantan & Sulawesi

http://www.jemekikim.weddingbookjogja.com/

# 2 Team ( Foto + Video ), Total Crew 10 - 12 Org
# Siap melayani dokumentasi Pernikahan Prosesi Adat Jawa Muslim Modern
# 1 Team memiliki 10 Crew Professional ( Foto + Video ), Total Crew 30 Orang
PROSESI UPACARA PERNIKAHAN ADAT JAWA  ( JAVA WEDDING RITUAL ) | TRADISI KRATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT | Secara Garis Besar adalah :

 

Nyekar


Memiliki makna sebagai wujud berbakti kepada leluhur


Nyekar merupakan tradisi berkunjung ke makam-makam leluhur ( keluarga ) yang telah tiada. Ketika calon pengantin akan mengadakan hajat acara pernikahan, Biasanya calon pengantin akan menziarai / mengunjungi makam-makam leluhurnya  ( oleh orang jawa disebut nyekar ) sebagai wujud bakti kepada kerabat / leluhur yang telah tiada. Menurut kebiasaan ( adat / budaya masyarakat Jawa ) nyekar biasanya dilakukan sebelum hari pernikahan dilangsungkan. Tradisi Nyekar ini ada 2, yaitu Nyekar dilakukan sebelum upacara Wisuda Nama pengantin dan nyekar yang dilakukan sebelum hari H pernikahan.


Tradisi nyekar yang pertama dilaksanakan sebelum upacara Wisuda Nama dengan mengunjungi makam-makam kerabat / leluhur yang dulu memiliki nama yang akan dimiliki oleh kedua calon pengantin yang akan menikah. Tradisi nyekar ini bertujuan untuk berkirim doa ( mendoakan ) kerabat / leluhur tersebut agar diampuni segala dosa-dosanya oleh Sang Pencipta dan diberikan tempat yang terbaik di sisi Nya.


Sedangkan Nyekar yang kedua, dilakukan sebelum hari H ( acara pernikahan ) memiliki tujuan untuk berdoa ( memohon ) kepada Tuhan agar hajat pernikahan berlangsung lancar serta calon calon pengantin diberkahi pernikahannya menjadi langgeng, sekaligus mengirimkan doa keluarga / leluhur yang telah tiada.


Nyantri


Prosesi mengenalkan tata nilai kebiasaan kehidupan keluarga calon pengantin putri kepada calon menantu


Prosesi Nyantri merupakan tradisi adat ( Budaya ) Jawa Warisan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Nyantri dilakukan dengan tujuan mengenalkan kepada calon menantu kepada keluarga calon pengantin putri. Dimana calon menantu akan di ajarkan banyak hal bagaimana nantinya menjalani kehidupan sebagai anggota keluarga di keluarga calon pengantin putri. Selain mengenalkan kehidupan keluarga calon pengantin putri, prosesi Nyantri ini juga bertujuan agar pihak keluarga calon pengantin putri mengetahui/mengenal keseharian calon menantunya, dimana segala perilaku ( ahlak ) dan segala kebiasaan calon menantu akan dinilai oleh pihak keluarga calon pengantin putri.


Awalnya prosesi Nyantri ini dilaksanakan selama 40 hari. Namun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, prosesi nyantri ini di hanya dilakukan selama 1 hari saja. Hal ini dilakukan untuk memberikan toleransi kepada calon menantu Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang memiliki kesibukan atau karena bekerja yang tidak bisa di tinggalkan dalam waktu yang lama. Dahulu Prosesi Nyantri ini dilakukan oleh Pepatih Dalem, yang mengajarkan tata kehidupan/kebiasaan di keluarga Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat kepada calon menantu Kraton. Namun setelah jabatan Pepatih Dalem dihilangkan oleh Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono IX  menunjuk Sesepuh Kraton yang melakukan prosesi Nyantri kepada calon menantu Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

 

Kalau di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat,  kegiatan Nyantri  ini dilakukan dimana calon pengantin putra akan di perkenalkan tata adat istiadat ( Kebiasaan ) yang ada di lingkungan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, calon menantu diajari komunikasi dalam berbahasa Jawa dengan Sultan ( Raja ), diajari cara memberikan penghormatan, juga diajarkan ngapu rancang (gesture tubuh ala Jawa), serta diajarkan laku ndodok, yaitu cara berjalan jongkok yang menjadi simbol perilaku yang sopan.


Di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat prosesi Nyantri diawali dari Mangkubumen ( sekarang menjadi Universitas Widya Mataram ). Dimana calon pengantin pria dan keluarganya akan dijemput oleh Utusan Dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk menempati Bangsal Kasatriyan. Utusan Dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat akan menjemput calon pengantin pria dengan menggunakan beberapa kereta kuda serta diiringi oleh pasukan berkuda. Rute Nyantri adalah dari Mangkubumen menuju ke Magangan, lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki sampai ke Bangsal Kasatriyan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Calon pengantin pria sudah ditunggu oleh para pangeran Kraton Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat  di Bangsal Kasatriyan. Calon pengantin pria akan tinggal di Bangsal Kasatriyan sampai acara Ijab Kabul dilangsungkan. Sementara calon mempelai putri berada di Sekar Kedhaton untuk mempersiapkan diri.


Dalam tradisi Nyantri Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, para utusan dari masing-masing Kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta akan mempersembahkan perlengkapan untuk prosesi pasang Tarub dan Bleketepe berupa hasil bumi seperti kelapa, padi, dan tebu kepada Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.


Untuk Calon pengantin wanita juga ada prosesi Nyantri. Hanya saja prosesnya berbeda dengan Nyantri calon mempelai pria. Prosesi Nyantri calon pengantin wanita sebagai persiapan calon pengantin wanita untuk menghadapi pernikahan.

 

Siraman


Simbol menyucikan diri


Didalam adat istiadat Jawa, Prosesi Siraman adalah Simbol membersihkan diri ( mensucikan diri ). Siraman berasal dari kata siram artinya mandi. Siraman memiliki arti dan makna memandikan calon pengantin ( putra dan putri ) disertai dengan niat membersihkan diri agar kedua calon pengantin yang akan segera menikah kembali bersih lahir dan batin.


Prosesi siraman calon pengantin putri, dimana calon pengantin putri akan duduk dengan mengenakan kemben ( busana adat jawa ) dan rangkaian bunga melati yang membalut tubuh calon pengantin putri. Dilanjutkan doa meminta berkah dan karunia dari Sang Pencipta yang dipanjatkan oleh seorang Nyai Penghulu. Air yang digunakan untuk Siraman berasal dari tujuh mata air yang ditaburi kembang setaman ( roncean bunga-bunga ). Kemudian air tersebut akan diguyurkan ke seluruh tubuh calon pengantin putri. Guyuran air pertama akan dilakukan oleh ibu calon pengantin putri, lalu di ikuti oleh para sesepuh keluarga.


Setelah calon pengantin putri disirami ibu dan sesepuh keluarga, lalu calon pengantin putri berwudhu menggunakan air yang ada di dalam sebuah kendi. Setelah calon pengantin putri berwudhu, lalu kendi tersebut dipecahkan di depan calon pengantin putri. Pecahnya kendi ini adalah simbol pecah pamor yang bermakna keluarnya pesona dari calon pengantin putri. Sehingga diharapkan setelahnya, calon pengantin putri akan semakin cantik dan manglingi yang membuat setiap orang sulit mengenali rupa calon pengantin putri karena kecantikannya bertambah.


Setelah calon pengantin putri diguyur air kembang setaman, calon pengantin putri akan dirias oleh seorang Juru Paes Manten ( Perias Pengantin ). Calon pengantin putri akan dikerik rambut dahinya oleh Juru Paes ( Perias Pengantin ), sebagai symbol dari membersihkan diri dari hal-hal yang buruk. Sementara itu, air dari tujuh mata air yang juga digunakan untuk prosesi siraman calon pengantin putri diantarkan oleh salah satu putri keluarga calon pengantin putri yang sudah menikah ke tempat  upacara Siraman calon mempelai putra. Dimana calon pengantin putra bersama keluarga dan kerabatnya sudah menunggu air kiriman dari pihak calon mempelai putri. Guyuran air Siraman diawali oleh ibu calon pengantin putri, dilanjutkan oleh ibu calon pengantin putra, dan diikuti sesepuh-sesepuh lainnya. Urut-urutannya pun sama seperti yang dilakukan kepada calon pengantin putri.


Upacara Siraman tradisi adat Jawa ini semuanya dilakukan oleh wanita. Karena berdasarkan kepercayaan masyarakat Jawa, para wanita merupakan ibu yang merawat anak-anak. Jumlah orang yang menyirami harus berjumlah ganjil. Karena jumlah ganjil ini diambil dari kepercayaan budaya Hindu yang melambangkan Simbol Trimurti ( Brahma, Wisnu, Syiwa ) yang juga dipercaya oleh masyarakat Jawa dapat menolak bala.


Siraman sebagai simbol menyucikan diri. Karena menikah dianggap sebagai babak baru dalam kehidupan manusia, sehingga setelah Prosesi Siraman kedua calon pengantin diharapkan dapat menjadikan kedua calon pengantin bersih secara lahir dan batin.

 

 

Majang Pasareyan, Tarub, dan Bleketepe

 

Menghias setiap sudut ruang dan halaman rumah


Didalam kebudayaan masyarakat Jawa, pasang tarub adalah  sebuah tanda jika sedang ada hajat pernikahan ( acara perkawinan ). Biasanya di setiap sudut ruang dan halaman rumah yang punya hajat akan di pasangi Tarub. Berdasarkan kepercayaan masyarakat Jawa pasang tarub juga menjadi sarana tolak bala. Kelengkapan prosesi pasang tarub semuanya terdiri dari hasil bumi seperti pisang, padi, kelapa, palawija ( yang disebut tuwuhan ), serta janur. Tuwuhan akan dipasang di berbagai gapura rumah. Sementara Bleketepe dibuat dari anyaman daun kelapa, bagian-bagian dari pohon kelapa banyak diambil untuk mendukung prosesi ini. Karena orang Jawa percaya bahwa kelapa merupakan salah satu buah yang memiliki banyak manfaat ( bisa berguna untuk hal apa saja ), mulai dari daun, buah dan batang kelapa semua bermanfaat bagi kehidupan manusia. Selain itu pohon kelapa di percaya memiliki umur yang panjang dan membawa kebaikan serta mejadi doa / pengharapan untuk kedua calon pengantin agar membawa banyak manfaat bagi orang lain, langgeng dan berumur panjang. Pohon kelapa memiliki makna dan arti yang dalam di masyarakat Jawa.


Pada waktu bersamaan di kamar pengantin ada prosesi menghias kamar pengantin ( prosesi ini disebut ; Majang Pasareyan ). Di kamar calon pengantin putri, kamar di hias oleh Ibu kandung calon pengantin putri ditemani oleh kakak perempuan calon pengantin putri yang telah menikah. Kamar di hias dengan aneka macam kain ( kain kain ini bermakna ; doa pengharapan, keselamatan, dan tolak bala ), bunga, serta berbagai pernak pernik cantik.


Tantingan

Menanyakan kemantapan hati kepada calon pengantin putri


Tantingan adalah menanyakan kemantapan hati serta kesiapan calon pengantin putri untuk menikah dengan calon pengantin putra yang telah melamarnya. Biasanya acara tantingan dilaksanakan pada malam hari selepas shalat Isya. Pada acara / Upacara ini orang tua ( bapak ) calon pengantin putri didampingi Ibu dan saudara-saudara sekandung dari calon pengantin putri, akan menanyakan kesiapan dan kemantapan ( keseriusan ) calon pengantin putri menikah dengan calon pengantin putra.


Acara / Upacara Tantingan yang dilaksanakan di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat akan disaksikan oleh Penghulu Kraton, Abdi Dalem Pemetakan, dan petugas KUA kecamatan Kraton di Jogja / Yogyakarta. Kalau di masyarakat umum, acara / upacara tantingan di saksikan oleh Penghulu dari KUA dan sesepuh keluarga calon pengantin putri.


Sebelum masa kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, acara Tantingan di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat bertujuan memberitahukan siapa calon pengantin putra yang akan menikah dengan putri Sultan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Karena pada zaman dahulu biasanya pernikahan antara calon pengantin putra dengan calon pengantin putri lewat proses perjodohan, sehingga kedua mempelai belum saling kenal.


Sejak masa Sri Sultan Hamengkubuwono IX, adat perjodohan pelan-pelan mulai hilang. Di era modern sekarang ini, acara / upacara Tantingan bertujuan untuk menanyakan kemantapan ( keseriusan ) dan kesiapan calon pengantin putri menikah dengan calon pengantin putra. Saat ini Acara / Upacara Tantingan tetap di pertahankan kelestariannya sebagai kebudayaan warisan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, serta tetap dilaksanakan dengan Bahasa Bagongan.

 

Midodareni

Menanti datangnya bidadari kahyangan


Midodareni berasal dari kata Widodari artinya bidadari kahyangan yang cantik rupawan dan wangi. Makna dari midodareni adalah menyucikan diri dan mempersiapkan mental lahir batin menghadapi acara pernikahan. Malam midodareni ini akan menjadi malam terakhir bagi kedua calon pengantin mengakhiri masa lajang, kedua calon mempelai akan ditemani oleh para kerabat dan temannya. Acara / upacara midodareni ini diambil dari kisah legenda Dewi Nawangwulan dan Jaka Tarub, dimana Dewi Nawangwulan yang bidadari kahyangan memiliki seorang anak dari pernikahannya dengan Jaka Tarub. Dewi Nawangwulan telah berjanji akan turun ke bumi pada saat anaknya Dewi Nawangsih menikah.


Pada malam Midodareni, calon pengantin putri diharuskan tidur setelah jam 12 malam untuk menanti datangnya sang bidadari kahyangan. Pada malam midodareni ini sang bidadari akan menganugerahkan kecantikan yang manglingi sehingga membuat setiap orang sulit mengenali rupa calon pengantin putri karena kecantikannya bertambah.

 

Akad Nikah


Kedua pengantin resmi menjadi suami istri


Akad Nikah biasanya dilakukan di Masjid, Rumah atau di KUA ( bagi yang beragama Islam ) dan Sakramen Ijab di Gereja ( bagi yang memeluk Agama Katolik / Kristen ).


Contoh ijab di Masjid ; untuk Akad Nikah Islam, calon pengantin putra akan berjalan masuk menuju Masjid, dimana Bapak calon pengantin putri sudah menunggu di dalam masjid. Setelah penghulu dan rombongan calon pengantin putra masuk ke dalam Masjid, ijab kabul lalu dimulai dengan acara khotbah nikah oleh penghulu.


Pada saat Akad Nikah, Bapak calon pengantin putri akan menikahkan sendiri putrinya. Bapak calon pengantin putri akan mengucapkan ijab kabul yang kemudian dijawab oleh calon pengantin putra, lalu penghulu menanyakan “ Sah “ kepada para saksi, jika para saksi menjawab “ Sah “ maka ijab kabul selesai. Acara dilanjutkan dengan pembacaan doa pernikahan, lalu penandatanganan dokumen ijab kabul oleh pengantin putra beserta para saksi.


Dilanjutkan dengan Sungkem sebagai acara penutup acara Akad Nikah. Pengantin putra akan melakukan sungkem kepada Bapak pengantin putri, sebagai simbol penghormatan dan meminta restu.


Setelah Akad Nikah selesai, bersiap-siap melakukan acara Panggih.

 

Panggih


Pertemuan kedua pengantin


Panggih artinya bertemu ( pertemuan ). Setelah selesai acara Akad Nikah pengantin putra dan pengantin putri akan bertemu di Upacara Panggih, kedua pengantin di pertemukan untuk pertama kali setelah keduanya dinyatakan sah menjadi suami-istri.


Diawali dengan memanggil pengantin putra beserta para pengiring untuk menghaturkan Sanggan Pethukan diiringi dengan barisan edan-edanan. Upacara Panggih dimulai dengan menghaturkan pisang sanggan sebagai tanda pengantin putra telah siap bertemu dengan pengantin putri. Lalu pengantin putra didampingi oleh dua orang wanita sebagai utusan dari pihak besan, diantarkan kepada ibu mertua meminta agar pengantin putri dipertemukan dengannya.
Setelah pihak keluarga pengantin putri menerima pisang sanggan, lalu pengantin putri keluar bersamaan denga Kembar Mayang. Pengantin putri berjalan di belakang dua orang Kembar Mayang. Begitupula pengantin putra berjalan diiringi sepasang Kembar Mayang.


Kedua pengantin akan melakukan Balangan Gantal. Dimana kedua pengantin saling melempar gantal ( sirih ) yang digulung benang berwarna putih ( disebut lawe ). Kedua pengantin akan melempar gantal secara bergantian. Makna dari prosesi Balangan Gantal adalah saat kedua pengantin meniti bahtera rumah tangga, setiap kesalahpahaman yang terjadi nantinya hendaknya diakhiri dengan sebuah perdamaian, karena setiap kesalahpahaman yang terjadi merupakan bagian dalam dinamika kehidupan berumah tangga.


Upacara dilanjutkan dengan Mecah Tigan ( pecah telur) oleh pengantin putra. Dimana pengantin pria akan menginjak telur yang telah disiapkan. Mecah Tigan bermakna bahwa pengantin putra akan menginjak sebuah kehidupan yang baru, dari lajang sekarang sudah berkeluarga.


Lalu dilanjutkan dengan Wijikan. Pengantin putri membasuh kaki mempelai putra. Kedua kaki pengantin putra dimasukan kedalam sebuah nampan kemudian pengantin putri membasuh kaki pengantin putra. Wijikan adalah simbol wujud bakti seorang istri kepada suaminya.


Upacara Pondhongan.Untuk Upacarayang satu ini KHUSUS dilakukan di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan tidak dilakukan di acara pernikahan adat masyarakat pada umumnya. Karena, Upacara Pondhongan dilakukan dikarenakan pengantin putri adalah anak seorang Raja.


Dalam prosesi Pondhongan, paman pengantin putri dan suaminya akan membopong pengantin putri ( dibopong “dipondhong” ). Upacara ini dilakukan hanya di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai simbol bahwa pengantin putri, sebagai anak seorang Raja, harus berada pada posisi yang terhormat.
Lalu kedua pengantin akan berjalan bergandengan tangan menuju ke pelaminan.
Acara dilanjutkan dengan pemberian ucapan selamat. Para tamu maju ke pelaminan dan memberikan ucapan selamat kepada kedua pengantin beserta keluarga.


Setelah proses pemberian ucapan selamat selesai, kedua pengantin akan berjalan keluar meninggalkan pelaminan diiringi dengan tarian edan-edanan. Edan-Edanan yang akan merias diri mereka dan menari adalah ritual tolak bala serta penolak roh-roh jahat yang bisa mengganggu kelancaran upacara Panggih, Edan-Edanan memiliki makna bahwa pasangan pengantin dengan ketampanan dan kecantikannya dianggap membutuhkan keseimbangan yang diwujudkan oleh penampilan penari yang ngedan dengan dandanan compang-camping.

 

Tampa Kaya dan Dahar Klimah


Kewajiban suami untuk memberi nafkah istrinya


Prosesi Tampa Kaya bermakna bahwa seorang suami berkewajiban member nafkah pada istrinya. Dalam prosesi ini, kedua pengantin akan masuk ke sebuah kamar. Di dalam kamar, pengantin putra duduk di tepi pendaringan ( serupa; tempat tidur ) sementara pengantin putri duduk dibawah. Di dekat kaki pengantin putra ada bungkusan harta berisi koin emas beserta segala ubarampe terdiri dari berbagai macam benih, beras dan uang recehan melambangkan harta / kekayaan, yang akan disimpan oleh pengantin putri. Lalu acara di tutup dengan doa.


Upacara Dhahar Klimah bermakna bahwa seorang suami harus siap menghidupi ( menafkahi )  keluarganya. Dalam upacara Dhahar Klimah pengantin putra mengepalkan nasi yang akan diberikan ke mempelai putri. Tiga kepal nasi kuning dan lauk pauk akan diambilkan oleh mempelai putra untuk dimakan pengantin putri. Lalu kedua pengantin makan bersama. Kepalan nasi kuning yang diambil pengantin putra berjumlah ganjil, karena berdasarkan kepercayaan masyarakat Jawa angka ganjil dipercaya sebagai penolak bala.


Maka kedua upacara ini menjadi simbolisasi hubungan suami-istri. Adapun makna dari upacara ini adalah terjalinnya tanggung jawab kedua insan sebagai suami-istri dimana suami mencari nafkah untuk keluarga dan istri harus bijak dan bertanggung jawab dalam menyimpan serta bisa mengelola nafkah yang diberikan yang dipercayakan oleh suami kepadanya.

 

Kirab


Simbol pemimpin menyatu dengan rakyat


Didalam tradisi pernikahan adat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat ada prosesi Kirab Pengantin. Prosesi ini dilakukan untuk mengantar kedua mempelai pengantin dan kedua orang tua sampai ke pelaminan. Kirab Pengantin dilakukan dengan iring-iringan kereta kuda disertai arak-arakan prajurit. Tradisi Arak-arakan selain bertujuan untuk memperkenalkan kedua mempelai pengantin kepada masyarakat sekaligus sebagai simbol dekatnya hubungan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dengan rakyatnya. Arak-arakan ini menjadi simbolisasi manunggal ing kawula gusti, artinya menciptakan kesejahteraan bagi umat manusia. Ketika pimpinan bersatu dengan rakyatnya, pasti akan tercipta kemakmuran dan ketenteraman.

 

Resepsi


Memperkenalkan pasangan pengantin kepada para undangan

 

Merupakan prosesi pesta perkawinan dimana kedua mempelai dan kedua keluarga yang mempunyai hajat mengundang para tamu ( sahabat, kerabat dan handai taulan ) untuk turut hadir merayakan hari bahagia tersebut dengan memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai yang sudah sah menjadi suami istri dan m. Resepsi pernikahan adat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dimulai dengan doa, dilanjutkan dengan Tarian Bedhaya Manten dan kemudian Tarian Lawung Ageng.


Enam orang penari wanita yang masih perawan akan membawakan Tarian Bedhaya Manten yang menjadi symbol perjalanan sepasang manusia dari kecil sampai memasuki gerbang rumah tangga. Dua orang wanita berperan sebagai sepasang pengantin sedangkan empat penari lainnya berperan sebagai penari Srimpi ( yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang menunjukan  kesiapan dan kemandirian untuk membangun kehidupan masa mendatang ).
Ada satu tarian lagi, yaitu Tarian Lawung Ageng berjumlah 12 orang penari pria yang menunjukkan jiwa pratiotisme yang tertanam dalam sanubari. Tarian yang menampilkan gerakan latihan perang-perangan atau adu ketangkasan. Alat ketangkasan yang dipergunakan  adalah lawung, yaitu tongkat panjang berukuran 3 meter, berujung tumpul, digerakkan dengan cara menyilang dan menyodok. Tarian ini menjadi simbolisasi prajurit Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat adalah karya Sultan Hamengku Buwono I ini memiliki makna penyatuan lingga-yoni sebagai lambang kesuburan.

 

Pamitan


Nasihat kepada Kedua Pengantin oleh Orang Tua Pengantin Putri


Setelah acara resepsi, pada malam harinya akan diadakan acara / upacara Pamitan sekaligus penutupan acara pernikahan yang dihadiri oleh kedua belah pihak keluarga ( keluarga pengantin wanita dan keluarga pengantin pria ). Dalam acara ini, Bapak pengantin putri selaku orang tua akan menyampaikan pesan serta nasihat kepada kedua pengantin agar tercipta kerukunan, saling mengasihi, saling menyayangi, saling menghormati, menghargai serta saling mengisi dalam suka dan duka. Orang tua pengantin putrid biasanya akan menitipkan putrinya kepada pihak besan.


Lalu dari pihak besan ( keluarga pengantin putra ) menyampaikan ungkapan  rasa terima kasih kepada keluarga pengantin putri, disertai dengan kata permohonan maaf apabila dari pihak keluarga pengantin putra melakukan hal-hal yang kurang sopan dan tidak berkenan selama prosesi acara.
Acara ditutup dengan sungkeman yang dilakukan oleh kedua pengantin kepada kedua orang tua dan mertunya.

 

Acara Selesai.
 
Chan Andi - Jogja / Yogyakarta Since March 2015
Budaya Jawa - Indonesia
 
Kembali ke atas
 
Jasa Fotografi Dokumentasi Fotografer Foto PernikahanPrewedding, Wedding, Post Wedding Photographer ) berbasis di Jogja untuk layanan Yogyakarta, Semarang, Bandung, Jakarta, Solo, Surabaya, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Lombok, Sumatera, Papua, Ntt, Indonesia, Malaysia & others!
 
or further info, please log on to:
our website at www.weddingbookjogja.com
our facebook at https://www.facebook.com/
our blog at http://blog.chanandi.com/
our flickr at http://flickr.com/photos/weddingbookjogja/
our twitter at http://twitter.com/
 

Our basecamp (by appoinment only):
Jl. Jogokaryan 623 YOGYAKARTA, Indonesia

Contact us:
HP: 085.200.88.4609 or 085.743.59.8263 ( Chan Andi & Ecko )
PH: 0877.3855.43.78
BB: by request
email:  weddingbook.jogja@yahoo.co.id web. www.weddingbookjogja.com + www.chanandi.com

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
RIAS PENGANTIN TRADISIONAL di JOGJA / YOGYAKARTA, Indonesia

Fotografer Pernikahan Tradisional Jawa ( Jogja / Yogyakarta, Solo ) Pre+Wedding Photographer Indonesia

Fotografer Pernikahan | Foto PreWedding | Wedding Photographer Jogja Yogyakarta Semarang Solo Surabaya Jakarta Pekanbaru Padang Jambi Medan Aceh Palangkaraya Banjarmasin Lombok Bali dll di Indonesia | HP: +62857 4359 8263, +62852 0088 4609 | Chan Andi Photography

WeddingBook Jogja / Yogyakarta ; Foto Pernikahan, Foto Wedding, Wedding Photos dan ber-tag , , , , , , , , , , , , , , , ; Melayani Rias Pengantin + Foto Video Prosesi Adat Jawa Jogja / Yogyakarta Solo ; Siap Rias + Dokumentasi Foto Video di Jogja Yogyakarta Jakarta Semarang Purwokerto Pekalongan Salatiga Madiun Malang Ponorogo Jember Bekasi Bogor Manado Makassar Pontianak Bangka Belitung Medan Batam Padang Palembang Jambi Bengkulu Lampung Sorong Kupang Denpasar Mataram Bali Lombok
 
 
 
 
Kembali ke atas
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
sites
tag. Artikel tentang Foto Pernikahan, Foto Wedding dan ber-tag , , , , , , , , , , , di Jakarta Jogja Yogyakarta Solo Semarang Pekalongan Purwokerto Salatiga Madiun Jember Ponorogo Surabaya Bandung Lampung Palembang Bengkulu Jambi Pekanbaru Batam Medan Padang Pontianak Bekasi Bogor Tangerang Denpasar Mataram Makassar Banjarmasin Manado Manokwari Jayapura Kupang Indonesia
 

Artikel Pernikahan Tradisional Jawa dan Nusantara, Indonesia

  • Chan Andi. Fotografer 2015. Tata rias pengantin dan pernikahan adat suku Buol Sulawesi Tengah. Jogja / Yogyakarta
  • Chan Andi. Fotografer 2015. Tata rias pengantin dan pernikahan adat suku Flores Nusa Tenggara Timur ( NTT ). Jogja / Yogyakarta
  • Chan Andi. Fotografer 2015. Tata rias pengantin dan pernikahan adat suku Mentawai Sumatera Barat. Jogja / Yogyakarta
  • Chan Andi. Fotografer 2015. Tata rias pengantin dan pernikahan adat suku Mongondow Sulawesi Utara. Jogja / Yogyakarta
  • Chan Andi. Fotografer 2015. Tata rias pengantin dan pernikahan adat suku Timor kota Kupang Nusa Tenggara Timur ( NTT ). Jogja / Yogyakarta
  • Chan Andi. Fotografer 2015. Tata rias pengantin dan pernikahan adat suku Toraja ( Tanah Toraja – Sulawesi Selatan ). Jogja / Yogyakarta
  • Chan Andi. Fotografer 2015. Tata rias pengantin tradisional Sumatra Utara. Jogja / Yogyakarta
  • Chan Andi. Fotografer 2015. Pengaruh budaya pada tata rias pengantin di seluruh daerah Indonesia. Jogja / Yogyakarta
  • Chan Andi. Fotografer 2015. Konsep Tata Rias Dahi. Jogja / Yogyakarta
  • Chan Andi. Fotografer 2015. Tata rias pengantin dan pernikahan adat batak. Jogja / Yogyakarta
  • Chan Andi. Fotografer 2015. Tata rias pengantin dan pernikahan adat minang. Jogja / Yogyakarta
  • Chan Andi. Fotografer 2015. Tata rias pengantin dan pernikahan adat jawa tengah. Jogja / Yogyakarta
  • Chan Andi. Fotografer 2015. Tata rias pengantin dan pernikahan adat jawa barat. Jogja / Yogyakarta
  • Chan Andi. Fotografer 2015. Tata upacara perkawinan tradisional jawa. Jogja / Yogyakarta
  • Chan Andi. 2015. Tata rias pengantin dan pernikahan adat Mandailing ( Sumatera Utara ). Jogja / Yogyakarta

 

 
 
     
 
Copyright © weddingjogja.com since 2014 All rights Reserved
 
 
Site Map Arsip Tag: foto pernikahan adat jawa